Monday, July 12, 2004

Me Versus Motor Cycles



Kalo lagi nyetir di jalan, empat hal yang paling gue benci adalah:
1. sepeda motor
2. sepeda motor
3. bis/bajaj
4. bajaj/bis

Biasanya orang paling benci ama bajaj karena "hanya Tuhan dan supir bajaj yang tahu ke mana berikutnya bajaj itu mengarah", gitu kata banyak orang. Not me. Di jalan yang sering gue lalui, bajaj bisa dibilang gak ada. Yang ada tuh sepeda motor, sepeda motor, sepeda motor, baru abis itu bis, bis, bis. The problem with motor cycles adalah kemampuan kendaraan beroda dua itu nyelip-nyelip di antara barisan kendaraan roda empat. I truly despise motor cycles because it seems to me all motor cyclists assume that the road belongs to them and them only, that other vehicles besides motorcycle simply do not exist! Hhh!!! Tapi gue gak sampe menerapkan salah satu teori dalam Murphy's Law sih, yang bilang, "You never really really learn how to swear until you learn how to drive". Paling tampang gue aja yang keliatan betenya, hehehe.

Sebenernya, pas pertama-tama gue (mulai bisa) nyetir, gue masih berbaik hati berpikir kalo para pengendara sepeda motor itu just as civilized as car drivers. Jadi kalo mau ambil jalan ya lihat apa di belakangnya ada mobil atau kendaraan lain, nggak sembarang selonong boy/girl gitu. Waa, sangkaan gue salah! Malah gue dikasitau kalo orang-orang yang naik motor ya selalu berpikiran bahwa pengendara mobil akan ngalah sama mereka. Yikes!
Alhasil, gue sering 'notol' motor, hehehe. Ada pengendara motor yang melotot ngeliatin gue, sementara gue dengan cueknya cuma melambai-lambaikan tangan nyuruh dia maju. Ada juga yang nggak memperpanjang masalah dan langsung jalan - mungkin takut dia yang disalahin. Yah, gitulah perang gue dengan sepeda motor. Korbannya? Adik gue dong, karena mobilnya gue pake untuk extreme action, hehehe :P

Note: Blabla tentang teori Murphy's Law diambil dari novel "Cintapuccino" karya Icha Rahmanti (a novel that will soon be a hot gossip topic, I dare say).

Friday, July 09, 2004

Bersikap Baik dan Berhati Baik: Beda

 Pas baca komik "Parfait Tic!" part 2-nya Nagamu Nanaji, gue 'kesenggol' 1 kalimat yang diucapin tokoh Daiya dalam komik itu: "Jangan samakan, dong, kebaikan hati dengan hanya sekedar bersikap baik". Selintas sih dua istilah itu ga ada bedanya, ya gak? Tapi setelah gue pikir-pikir, wah, emang beda ya.

Say, pas elo lagi feeling good, ga ada beban, elo bisa enteng aja kasih duduk ama orang lain di bis yg penuh sesek. Tapi coba kalo elo lagi beteeeee dan capekkkk berats, terus elo harus nunggu bis di bawah sengatan matahari. Pas dapet bis, bisnya udah kayak tas gue yang segala macam barang masuk. Tapi untunglah gak berapa lama ada orang yang mau turun dan dia udah ngasih sinyal ke elo untuk ambil tempat duduk dia begitu dia berdiri. Phew! Akhirnya, luck is coming your way! Tapi... what the ...!!! Ibu-ibu yang berdiri agak di belakang tau-tau nyerobot dan ngambil kursi yang mestinya bakal jadi kursi yang bakal elo dudukin!! Talking about wanting to scream at the top of your sore lung at that exact very moment! :P

Jadi apa yang sebenernya mau gue omongin ya? Hehehe. Maksud gue, dari ilustrasi di atas, antara "bersikap baik" dan "baik hati" jadi kelihatan bedanya. Orang yang "baik hati" akan bersikap sama meski hujan melanda, badai menerpa, gempa mengguncang, gunung meletus, dan ... nasib terburuk dari yang terburuk menimpa dia. "Bersikap baik" adalah perilaku (behavior); "baik hati" adalah attitude. Dan attitude definitely lasts longer than behavior. Mark my words...


Friday, February 06, 2004

but i don't believe in me...

i believe in you.
hear me?
i believe in you.

Friday, January 16, 2004

Losing A Darling Thing

*Sigh...
Surely life won't go on like this, will it?
So much of a big lost
when you lose your cell...

There's Always the First Time for Everything

Ma first trial.

I would like to congratulate myself for finally realizing the dream, for reaching the impossible dream, huahahaha!! That's a lie! I'm glad I have this blog. I hope it leads to the fulfillment of my wildest dream: To be a W R I T E R. A successful, an entertaining, pokoke a damn good writer.

A tribute is specially dedicated to an old friend of mine from my senior high era, Umar. It was from him that I (indirectly) learn the amazing world of blogs. Thank you ya Pak!