Friday, November 11, 2005

Rindu!

Assalaamu'alaykum...

Halah halah, udah bulan Syawal aja ya? Artinya selama Ramadhan kemarin saya nggak update blog ini sama sekali. Ck ck ck. Ke mane aje loe Met? Sebenarnya sih kesibukan ya rumah-kantor-kampus aja. Mestinya bisa disempatkan menulis. Tapi setiap kali kepingin bikin posting, dorongan untuk mengerjakan hal lain lebih riuh mengetuk hati. Jadilah baru sekarang saya menulis lagi.

Kepada teman-teman sesama muslim, saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri. Selamat menggapai hari kemenangan setelah sebulan melaksanakan ibadah shaum Ramadhan sebagaimana diperintahkan Allah SWT kepada orang-orang beriman. Semoga seluruh rangkaian amal ibadah kita pada bulan tersebut diterima Allah dan semoga pula Allah mengampuni segala dosa kita sehingga kita kembali fitri. Amiin.

Alhamdulillah, rasanya Ramadhan tahun ini bagi saya lebih baik dibanding tahun lalu. Meski ritme pekerjaan kantor cenderung tak berubah (lembur tetap jalan, euy!), suasana khidmat Ramadhan entah kenapa lebih terasa di hati, sehingga ketika Ramadhan berakhir, ada perasaan duka menyelinap di jiwa. Mungkin gema Ramadhan yang membahana di televisi, radio, dan berbagai media lainnya dalam bentuk syiar dakwah para ustadz yang lebih gencar; adzan lima waktu yang biasanya dilewatkan begitu saja kini terdengar merdu di telinga; suara Dian Sastrowardoyo di radio kesukaan saya membacakan tulisan Mbak Neno Warisman membawa pikiran saya sejenak melihat ke dalam diri; atau nasyid yang di luar Ramadhan tak pernah terdengar, selama Ramadhan sering teralun merdu. Belum lagi berkumpulnya keluarga ketika makan sahur dan terkadang pada saat berbuka. Semuanya meski terlihat sebagai hal-hal kecil tapi mungkin merupakan hal-hal utama yang menambah kekhusyukan jiwa menyelami makna dan manfaat Ramadhan.

Lebih jauh lagi, Ramadhan tahun ini rasanya saya bisa sedikit lebih baik dalam meningkatkan ilmu sabar saya. Tahun-tahun belakangan memang banyak cobaan dan ujian membayangi hidup saya. Tak pelik-pelik amat, memang, tapi toh tetap dibutuhkan banyak kadar kesabaran untuk menghadapinya. Dengan shaum Ramadhan, jiwa ini seperti diingatkan kembali untuk selalu berserah diri pada Sang Ilahi Rabbi. Yah, ke mana lagi kita meminta kalau tidak kepada Yang Maha Menguasai atas segala sesuatu? Ibadah tarawih di penghujung malam turut menguatkan ikhtiar hati. Tetes air mata ketika bersujud pun termaknai sebagai wujud upaya ikhlas hati atas perjalanan hidup yang telah tergaris.

Allahu Rabbi, baru saja berpisah dengan Ramadhan, telah rindu pula saya untuk menyambutnya lagi! Ah, tak salah bila banyak yang berharap Ramadhan hadir sepanjang tahun. Moga Allah sudi memanjangkan usia kita agar kita dapat bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Amiin.

To All: For all my mistakes and wrongdoings, please kindly forgive. Thank you!

Thursday, September 22, 2005

Repot Dikit, 'Napa?

Di antara sejuta (hiperbolis sedikit ah) kelakuan manusia Indonesia yang menyebalkan, salah satu yang paling saya nggak suka adalah kebiasaan untuk memotong antrian atau menolak untuk ikut antri. Terbayang kan bagaimana sebalnya kalau kita sudah capai-capai berdiri di antrian lalu ada orang lain yang dengan seenaknya menyerobot antrian di depan kita? Atau yang tidak kalah menyebalkannya, ada orang lain yang langsung saja menyerobot berdiri di depan loket/kasir. Padahal antrian sudah panjang meliuk.

Kebiasaan seperti ini kemungkinan disebabkan oleh keengganan orang Indonesia untuk sedikit bersusah-susah demi sebuah ketertiban (soalnya kalau penyebabnya adalah karena ingin dimaki orang dan didoakan nggak selamat, kan ya tidak mungkin. Eh, atau mungkin ya?). Yang terpenting dalam pikiran mereka adalah "yang penting saya senang", tak peduli orang lain jadi susah akibat kelakuan mereka. Buat mereka, antri merupakan suatu kosa kata yang haram jadah untuk diingat. "Pokoknya gue seneng, elo mau apa?", begitu kira-kira otak mereka akan bilang kalau otak memang bisa bicara.

Fakta lain yang bikin saya lebih sebal lagi, keengganan untuk mengantri (atau sebaiknya saya tulis: ketidakinginan, karena "enggan" berarti masih mau tapi harus disuruh-suruh dulu atau diancam setengah jongkok selama mengantri) tidak berhubungan dengan tingkat pendidikan seseorang. Hal itu juga tidak berkorelasi dengan tingkat kekayaan seseorang. Bisa saja seseorang yang mengaku mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi tapi pada kenyataannya tidak tergerak hatinya untuk berdiri pada barisan antrian yang telah ada. Atau ibu-ibu dengan anting mutiara menggantung dan gelang emas bergerincing di kakinya (ini ibu-ibu apa sapi ya?) dengan santainya menyerobot antrian. Alih-alih mereka akan bilang, "Salah elo sendiri, bisa cepet, kok pilih yang lama?" Yah, jadi kita yang disalahkan dan dianggap bodoh.

Sesungguhnya apakah kita memang bodoh apabila kita bersedia untuk bersusah-payah mengantri? Apakah intelektualitas kita berkurang karena kita mau sedikit lebih beradab? Tidak, saya rasa. Justru dengan kemauan kita untuk mengikuti suatu aturan tak tertulis untuk mengantri menunjukkan betapa kita memang sepadan dengan intelektualitas yang kita miliki, atau bahkan lebih dari itu. Kemampuan kita untuk mengalahkan ego kita demi suatu ketertiban dan keteraturan justru menampakkan keluhuran budi kita, bahwa kita manusia yang berbudaya.

Selama orang Indonesia masih bersemboyan "Gue seneng, elo senep*", selama itu pula orang kita akan terus dicap sebagai masyarakat dunia ketiga oleh mereka yang mengaku orang Barat. Jadi kalau kita jalan-jalan ke Amerika Serikat kemudian dianggap orang udik (baca: Belajar Naik Bus, Republika Minggu, 18 September 2005), jangan marah lah. Tanyakan ke diri kita, jangan-jangan sesungguhnya jiwa kita memang masih jiwa orang udik...

*senep = bahasa Jawa dari kata "susah"

Wednesday, August 24, 2005

A disaster or a blessing?

Okay, one file printed, another one to go. Well, make that five.

I was arranging the pile of papers I had just printed when suddenly ... the computer was off and so were the lights. My God. What joke were You playing to me?

Thursday, 18 August 2005
That day I had a load of things on my to-do list. Actually I had intended to come to the office on Wednesday to finish some of my works so that my Thursday's burden would come a bit lighter. But nope, I didn't come because somehow I felt so tired that day, I spent almost the whole day dozing off. It was supposed to be a holiday, anyway (i.e. Indonesia's independence day), so I thought I deserved a little break.

I arrived at the office much later than I wanted (as always). The first thing I planned to do was downloading some files from the mailbox and printing them because they were needed for the training that morning. So, I open mail.yahoo.com and there, the files I needed were already in mailbox. Good. What I needed to do next was download one file... open it... edit here and there, and... print. Okay,
one file printed, another one to go. Well, make that five.

I was arranging the pile of papers I had just printed when suddenly ... the computer was off and so were the lights. My God. What joke were You playing to me? My head was instantly filled with all the tasks in my to-do list, all dancing ferociously waiting to be executed right away. I tried to calm off, hoping that the lights would soon be on and that it was just a temporary electricity shut down as it usually happened.

Well, no. I forgot how I knew it at the first place, but it turned out that the electricity shut down didn't happen in my office area, it occurred in almost all Java, Bali and Madura. Good God! I didn't know whether I had to thank God for this or went panic. I had to submit two works that day because that day was the deadline. What to do? What to do?

Trying to make an effort, or at least wanting to be seen making some effort, I went to the neighbour offices which apparently had a generator set (genset, to make it short). One office had a genset but it could only accomodate for the lighting and air conditioning, not for other electrical apparatus. And I found that out after carrying around an HP 1010 laser jet printer to that office. That made a good 300 m-journey.

The other office was much better. It allowed for the using of computers and printers and all other electricity equipments. So I dazed off back to my office to get the printer and then carried it back to the "much better" office. You think the problem's solved? NO. The computer in the "much better" office did not provide for CD drive (I needed it to install the printer), so I had to go back to my office to get a laptop. To get the laptop, I had to wait for the person who was in charge of keeping maintenance of laptops, who was out having lunch or whatever he was doing at that time. Since I hated to wait, I ran to my car and got my own laptop which was actually a lousy one and proved its lousiness because it couldn't read the printer's installation CD.

I went back to my office and finally I got the laptop I needed. Then, I walked back (actually, "climbed back" suited more perfectly because the location of the "much better" office was on the second floor) heaving the heavy laptop. I did all the steps needed to take to get the printer installed. So, I opened the file, select "print" from the command box and waited. What happened later was that I had to re-try installing the printer.

The installing effort had to be repeated at least five times before I managed to print. Then came the announcement: "Ladies and Gentlemen, to spare the genset energy, we have to turn off the genset in approximately half an hour". WHAT??? I still had more files to print yet I had to hear this?!

Feeling drained, I went back to my office and did my afternoon prayer (sholat Dzuhur). What else could I do? Better whine about all this mess to the Ultimate Creator. Like an answered prayer, after I finished my prayer, the lights went on. But I was too tired. There was no way the deadlines could be met that day. So, after a lingering moment at the end of that day, I thought: Was today really a disaster or a blessing from God?


Friday, July 08, 2005

Alone again

Friend:
"You know, I was once mistaken. I meant to introduce F to Mas XYZ one day".
Me:
"Uh huh" (listening intently).
Friend:
"But then I couldn't find him in his room. So we went back to F's cubicle. There F told me that she was about to marry in three weeks! When I met Mas XYZ, I told him to forget my idea of introducing F to him".
Me:
"So Mas XYZ really means it when he said he's going to look for a second wife."
Friend:
"Oops! Didn't you know it? He just divorced his wife".
Me:
(Stunned)


Too many times I heard of the word "cerai" (English: divorce) being spoken lately. It's no longer a word that I frequently hear being said on TV; It's a word that now becomes spoken so often like the word "getting a baby", because it's not just celebrities who dare to commit divorce nowadays. Sadly, the "divorce" virus has gotten to people close to me. To mention a few, there have been my ex-office mate and current office mate; my ex-campus colleague; and my cousin who have been through the awful experience.

The reason of separation is different between one person to another, but the grand theme is the "unfit that cannot be tolerated anylonger". For someone who hasn't got married like me, this epidemy creates a new sense of fear. Previously the question that keeps bugging me is "Will I ever get married?", now a nouveau tingling question adds to my things-to-worry list: When I eventually get married, will my marriage survive to the day I (or my partner) die(s)?

Men.
When they don't worry, they complain.

Tuesday, May 31, 2005

Narco

Gue suka kesel deh, kenapa ya gue sekarang kok suka gampang ngantuk? It's annoying banget, apalagi kalau lagi rapat di ruang yang gak begitu gede, dan pesertanya hadap-hadapan. Gak enak banget kan, jadi ketahuan banget ngantuknya. Gue pernah gitu, dua kali atau tiga kali malah, terkantuk-kantuk di tengah-tengah rapat. Padahal gue jadi notulen lho. Tulisan gue udah yang gak tau kayak gimana bentuknya, mleot-mleot gak jelas. Pastinya banyak omongan peserta rapat yang gue miss, hehehe. Nggak tahu deh, waktu itu ada yang notice atau nggak.

Pernah saking nggak tahannya, gue permisi aja ke toilet. Biar segeran gitu ceritanya. Pas deket toilet, gue ketemu office girl. Gue bilang ke dia, "Mbak, yang lagi rapat di ruang rapat sana nggak disediain minum ya?" Emang kita-kita di ruang rapat belum disediain minum sama sekali. Tapi kalau gue gak ngantuk, gue gak akan sampe minta-minta kayak gitu :P

Pas gue balik lagi ke ruang rapat, mata gue udah agak bisa diajak kompromi. Tapi gak lama, kliyeng... ngantuk lagi gue. Untung gak lama rapatnya udahan. Kalau nggak, bisa-bisa gue ketiduran beneran di rapat itu. Mana rapatnya di kantor klien, lagi. Gawat kan kalau kejadian.

Kalau udah ngantuk gitu, salah satu 'penyelamat' adalah kopi. Di kantor lama, pagi-pagi gue selalu bikin kopi. Favorit gue: kopi krim, dengan formula satu sendok teh kopi instan dan dua sampai tiga sendok teh krim, terus gulanya dua atau dua setengah sendok teh. Atau langsung aja yang sachet, either indocafe cappucino atau indocafe 3 in 1. Tanpa kopi di pagi hari, bisa-bisa kepala gue nubruk monitor gara-gara ngantuk.

Sekarang sih udah gak musti tiap hari ngopi. Berhubung di kantor gue yang baru gue bisa datang agak siangan, ya udah, gue tidur dulu aja abis sholat subuh biar di kantor gak terlalu ngantuk. Tapi ya tetep, kalau ngantuk eskapologi gue adalah kopi. Kopi yang gue minum sekarang nescafe 3 in 1 yang original. Yang krem udah gue cobain tapi kopinya kurang kerasa.

Tapi itu kalau gue lagi di kantor. Kalau lagi di luar, gue suka beli kopi siap minum. Gak usah mikirin Starbucks atau Excelso. Yang gue maksud itu minuman kopi dalam kemasan. Favorit gue: Cappuccini rasa Espresso, atau kalau itu gak ada, kopi Esco (bener gak sih? Itu tuh, kopi yang diiklanin ama Mat Solar) juga boleh. Biasanya gue beli kopi Esco di kampus Depok. Kalau yang Cappuccini belinya di kantin dekat kantor. Saking seringnya beli Cappuccini, gue sampe punya trademark tersendiri di antara temen-temen kantor gue: Metty (cewek yang) demenannya minum kopi.

Kalau ada yang suka kopi racikan model Starbucks atau cafe-cafe yang jualan kopi baca tulisan gue ini pasti ngetawain selera kopi gue. Yah, beginilah gue, kalau dikasih kopi 'beneran' alias kopi espresso asli, langsung pusing gue. Tapi masa bodo ah. Yang penting kan gue enjoy. Masa mau maksain minum kopi pahit demi gengsi. Nggak ah, makasih. Udah gitu mahal pula. Gak worth it ama kenikmatannya yang cuma sejenak.

Ngomongin tentang ngantuk, kalau udah ngantuk, gue bisa tidur gimanapun posisi gue waktu itu. Mau lagi berdiri di kereta, lagi naik bis, hayo aja. Kan kalau ngantuk kita tinggal merem. Lucunya kemarin gue naik taksi dan pas di taksi itu gue ngantuk banget. Maklum, malam sebelumnya nggak nyenyak tidurnya. Pas udah hampir sampai tujuan, gue bangun. Karena kena lampu merah, gue tengak-tengok aja ke samping kanan dan kiri, siapa tahu ada pemandangan yang menarik yang bisa bikin gue gak ngantuk lagi. Gak sadar, pas lagi lihat ke luar, mata gue merem dan yak, gue ketiduran lagi deh. Orang yang ada di mobil di sebelah taksi gue mungkin udah senyum-senyum ngeliat gue yang ketiduran dengan posisi duduk tegak gitu.

Kalau dipikir-pikir, penyebab gue suka ngantuk adalah pola tidur gue yang emang gak beres. Gue suka baru tidur jam 12 atau jam 1 malam. Jam 4 atau 1/2 5 gue udah bangun, terus jam 5-an gue kadang-kadang tidur lagi. Ntar jam 7 atau jam 8 gue bangun lagi deh. Kalau dihitung memang jumlah tidur gue udah cukup. Tapi kenapa masih suka ngantuk ya? Mungkin karena suka tidur malam, gue jadi rada anemia. Yang bikin lebih parah, gue jarang atau bisa dibilang gak pernah olah raga. Makanya jadi gampang lemes dan ngantuk. Mudah-mudahan aja ini bukan tanda-tanda sakit diabetes, soalnya kalau dari indikasi lemes dan ngantuk, gue udah memenuhi syarat :(

Biar gini, gue masih belum masuk kategori narcolepsy, alias orang yang bawaannya ngantukkkk mulu. Eh, di Festival Sinema Perancis (FSP) 2005, ada lho film tentang penderita narcolepsy. Judulnya 'Narco'. Cek aja jadwalnya di www.ccfjakarta.or.id. Nah, karena malam ini gue ada rencana nonton salah satu film FSP, lagak-lagaknya besok gue bakal ngantuk mulu. Alamat ngopi lagi deh. Untung ada kopi, dan untung besok gak puasa. Kalau besok puasa, ya sudah, gue menyerah! Tidur aja lah, enaknya...