Saturday, April 07, 2007

Puas

Pada suatu malam, Tante yang baru pulang dari kantor mendapati keponakannya sedang asyik melakukan sesuatu di kamarnya.

Tante: (Eh, lagi ngapain tuh keponakanku? Aku samperin dulu, ah.)

Tante: "Halo, Sayang. Lagi ngapain kamu?"

Keponakan: "Eh, Tante. Ini lho, lagi lihat-lihat hp Bunda. Aku tuh penasaran, ini gimana sih pakainya?"
Bunda: (Oh no, hp gue dibuat mainan! Harus dialihkan nih perhatiannya!)
"Rashad Sayang, sini dong, Bunda kangen deh sama kamu (sambil buru-buru peluk). Eh, itu tuh, kita foto dulu yuk? Tante mau foto kita tuh."


Keponakan: (Aduh, Bunda nih, lagi asyik-asyik lihat hp kok digangguin sih?) "Eh, iya, iya Bunda (dengan nada agak-agak sebel)."
Bunda: (Yes, taktik gue berhasil! Dia mulai lupa sama hp gue!) "Eh, Rashad, bentar dulu, fotonya belum selesai. Ayo, ayo, kita foto lagi. Tante, fotoin lagi ya."

Keponakan: (mulai males senyum karena makin sebel sama Bunda).


Keponakan: "Apa, mau foto lagi nih? Udah ah, aku ngantuk nih, Tante. Aku mau bobok dulu. Foto-fotonya udahan dulu ya?"
Tante: (Nggak sadar kalau keponakannya lagi gondok, malah terus foto-foto. Ngegemesin sih, keponakannya ini). "Bentar dulu dong, Shad. Sekali lagi ya?"

Keponakan: "Aaarrgghh. Udah dong ah! Aku ngantuk nih, Tante. Ya udah, aku nangis nih ya! Puas, puasss?!"

Dan sesi foto-foto malam itu selesai juga (secara terpaksa), karena si model mau bobok dulu. Met bobok ya, Rashad Sayang. Jangan lupa baca doa, dan mimpi indah.








Monday, March 26, 2007

May day! Financial crunch at bay!

You reap what you sow. In my case, I should say it's me who reap what I sow. For some time I have been wanting for a digital camera. I thought I wouldn't get a hold on one, not until I managed to keep some money first. But the story has taken into a turn.

On March 11, a friend sent an SMS, asking if I wanted to go to the Photography Exhibition at JCC. I figured I could check out the latest model of digital cameras, so I said okay to the invitation. I was supposed to meet her in Plaza Senayan (PS) before we continued our trip to JCC.

Alas, on the way to PS, I had an "accident". As I went out from the bus I'd been taking, my jeans skirt was ripped. I did not realize it until I went to the rest room at PS, so I walked up the crossing bridge in front of Ratu Plaza all the way to PS with my skirt torn about 15 cm or so. Thank goodness I found out about it although I wish I had known it a lot sooner. I tried to make the skirt more decent to wear by putting safety pins here and there. However, I decided I had to get into another dress because I could be so reckless when walking hence get my skirt torn even more apart.

The story continued with an unintentional shopping of a pair of black trousers. I hadn't even got to the exhibition and I already made a purchase. Considering the previous day's shopping for my Dad's birthday present had cost me quite a fortune, this purchase made my financial condition look worse. And it was only March 11.

But the story has not ended there. Having seen so many digital cameras put on the display, I couldn't resist the temptation and there, I bought one 7 mp camera. Yes, I used my credit card for the purchase, but I knew eventually I would have to pay for it.

Now, on the 26th day of the month of March, I entered into a so called "financial doom" situation. I've been taking food from home for lunch, taking the bus to the office, and all things that I could do to keep me "safe". I have the camera that I've wanted, but it comes with a price. A handsome price. Had I really reaped what I sowed... :P


Thursday, March 01, 2007

White day

I'm not talking about that White Day celebrated by the Japanese. I'm talking about last Friday, when several colleagues and I happened to wear white shirt that day. Even my boss wore white, although it was rather creamish.



Seeing this picture in the future will definitely bring my memory back to the days of laughter down in MCL. March is here, but we haven't got the tiniest idea about our fate in MCL. It all depends on you, Mr. President.

Tuesday, February 13, 2007

To be a PhD student or not to be, that's the question

I've been thinking on taking PhD degree. After browsing this website, I find these comic strips best picture the life of a PhD student - which make me requestion my wish to pursue the degree...






Friday, February 02, 2007

Jakarta Banjir (Lagi)!

Detik.com


Oi oi, mantaplah hujan hari ini. Sempat saya dibuat deg-degan karena mesin mobil mati di tengah-tengah lautan air. Nggak tinggi sih airnya, cuma selutut (hehehe). Gilanya, mobil yang saya naiki adalah tipe Karimun. Semakin kebat-kebit lah saya jadinya.

Waktu itu sudah jam 22 lebih. Karena hujan tidak juga berhenti dan ditambah bonus petir pula, saya agak memaksa mengantar abang saya sampai ke rumahnya. Mana tahu lah saya kalau hujan yang sejak sore mengguyur Jakarta telah berbuah banjir. Sewaktu masuk jalan kecil menuju rumah abang saya sebenarnya air sudah tinggi, tapi berhubung mobil saya sukses melewati jalan yang terendam air tersebut, saya jadi tidak terlalu memperhatikan kemungkinan di ujung jalan satunya akan terjadi hal yang sama. Lebih buruk, bahkan, sampai-sampai warga setempat memasang palang dari bangku dan ban untuk mencegah orang melalui jalan tersebut lebih lanjut.

Tinggal saya yang kebingungan mencari jalan keluar. Sambil sok pintar, saya coba masuk jalan tikus lainnya. Ups! Ketinggian air di jalan itu malah lebih parah daripada jalan yang saya lalui di awal-awal tadi. Saya semakin deg-degan karena mobil pickup di depan saya bukannya jalan tapi malah berhenti. Hoa! Ayo jalan! Alhamdulillah, rupanya mobil pickup itu cuma berhenti sebentar. Rupanya si supir bingung karena di depannya ada lautan air. Untungnya dia bersedia jalan juga. Kalau tidak, weleh-weleh, bisa mati di situ mesin mobil saya.

Lepas dari situ, jalan yang saya lalui "bersih" alias tidak digenangi air. Tapi... yah.... Setelah jalan 200 meter, mobil terhadang banjir lagi. Terpaksa mobil saya belokkan dan kembalilah saya ke jalan awal, yaitu jalan sebelum saya mencari jalan tikus. Yah, apa boleh buat. Terpaksa saya harus mengambil jalan pertama tadi dan melintasi dalamnya lautan air, hiks hiks.


Sambil terus dzikir dan bolak-balik bilang, "Please God, please God," mulailah saya dengan gagah berani (tepatnya sih, dengan nekatttt!) saya jalankan mobil melalui banjir. Lima meter, enam meter, oh oh, kok mobil saya seperti akan mandek ya? Sambil coba mengingat-ingat "pelajaran" yang saya pernah dengar selintas dari ... - entahlah, saya tidak ingat - mengenai bagaimana cara mengendarai mobil bila harus melewati genangan air atau banjir, saya jalankan mobil pada gigi dua lalu ke gigi satu sambil menekan kopling. Tapi, walah, mobil saya malah pelan-pelan mati. OH NO!!! Saya nggak mau menginap di mobil di tengah-tengah banjir ini, ya Allah! Saya belum mau mati!!! Eh, tapi kok terlalu ekstrim ya, sampai berpikir akan mati karena mobil nggak jalan seperti ini? Maka, saya ganti pikiran saya jadi, "Ayo ya Allah, bantu saya. Saya belum siap mati sekarang karena belum sholat Isya' nih." Hehehe, jadi tetap bawa-bawa mati deh.

Anyway, setelah coba starter mobil kedua kalinya, kali ini saya pasang gigi satu dan tekan gas dalam-dalam. Satu, dua, tiga, bismillah!!! Alhamdulillah, berhasil! Dengan agak brutal, mobil saya pacu sehingga dengan menyesal harus menciprati sebuah warung. Well, sepertinya, sih. Namanya juga rada panik, jadi antara ngeh dan tidak.

Oke, akhirnya saya sampai di mulut jalan, yang artinya saya sampai di Warung Buncit. Jalan lagi sekitar 120 meter dan saya akan sampai di jalan yang mengarah ke daerah rumah saya. Tapi, yah, kejadian lagi deh, mobil saya ngadat euy! Akhirnya saya matikan saja mesin mobil. Pasang lampu hazard (itu tuh, yang lampu sen kanan dan kiri kedip dua-duanya), terus saya starter lagi mobil saya. Huray! Mobil nyala lagi!

Alhamdulillah, sekitar jam 23.05 saya sampai di rumah. What an adventure! Tapi kalau disuruh ulang lagi, idih, nggak deh. Makasih!


PS.
I wonder, Jumat kantor bakal diliburkan atau nggak ya? Wishful thinking ;)